GOOGLE TRANSLATE

Pantai Ujuang Karang

Jumat, 27 September 2013

Cara Mengganti, Merancang dan Membuat Template Blog Sendiri di Blogspot


Dalam postingan ini akan saya jelaskan cara mengganti template blog blogspot dan juga cara merancang template sesuai selera anda.

* Tutorial di bawah berdasar pada menu blogger interface yang baru


Cara mengganti template blogger :

1. Login di blogger.com
2. Pilih blog yang akan diganti templatenya
3. pilih menu Template, pada halaman tersebut anda sudah bisa memilih model template yang anda suka
4. Setelah memilih, jangan lupa Apply to blog

Cara merancang template menggunakan fasilitas template editor (designer)


1. Login di Blogger.com
2. Pada Dashboard, pilih blog yang akan diganti templatenya
3. pilih menu Template
4. Pilih customize
>> menu-menu yang ada di halaman Customize
5. Templates : di bagian ini, anda bisa memilih model template yang anda suka (sementara ini, yang bisa dimodifikasi hanya model template Simple, picture windows,, hingga Travel. Sedang template Dynamic Views serta template luar mungkin tidak akan bisa diedit keseluruhan)
6. Background : di bagian ini anda bisa memilih warna latar belakang ataupun mengunggah gambar background kesukaan anda
7. Adjust widths : di bagian Adjust widths, anda bisa mengatur lebar template
8. Layout : di bagian ini anda bisa memilih model layout, kolom serta sidebar sesuai selera
9. Advanced : di bagian ini anda bisa merubah warna tulisan, model tulisan maupun warna link sesuka hati
10. Setelah selesai, jangan lupa Apply to Blog di pojok kanan atas.

Cara mengganti template dengan template external (download di situs template gratis)

1. Carilah atau siapkan template yang telah anda download di situs template gratis untuk blog blogspot (anda bisa mencari di http://www.zoomtemplate.com/)
2. Buka file template yang telah didownload menggunakan text editor (saya sarankan anda membuka file xml menggunakan wordpad)
3. Login di blogger.com
4. Pada Dashboard, pilih blog yang akan diganti templatenya
5. pilih menu Template
6. pilih edit html
7. pilih proceed
8. sebelum mengganti template lama dengan kode html template baru, saya sarankan template lama dibackup dulu, caranya : klik expand widget template, copy semua isi yang ada dalam kolom html template, simpan ke dalam file wordpad baru, save.
9. Setelah kode html template lama disimpan, ganti semua kode html template lama dengan kode html template baru (copy-lah mulai dari kode tag ?xml ... hingga tag /html )
10. Save template

Selamat Mencoba dan semoga sukses !!!

50 Tipe Mahasiswa, Agan spesies yang mana?



1. Mahasiswa perfeksionis = mahasiswa yg anti sama nilai B. sekali dpt B langsung guling2 ditanah dan galau 7 turunan.



2. Mahasiswa studyholic = duduk paling depan, sehari2 ngurung diri dalam kamar buat belajar. motto hidupnya “tiada hari tanpa belajar”



3. Mahasiswa idiopatik = ga jelas kehidupannya di kampus. kadang2 ada, kadang2 ga ada.



4. Mahasiswa poli-organisasi = aktif diberbagai organisasi kampus. motto hidupnya “banyak organisasi, banyak rezeki”



5. Mahasiswa pasrah = dapat E? ah tenang, kan ga cuman aku doang yang ga lulus



6. Mahasiswa pecinta = kerjaan sehari2nya pacaran tak peduli tempat, waktu, dan lokasi.



7. Mahasiswa cadaLOver = saking terobsesinya sama cadaver, ampe kuliahnya hanya saat ada materi anatomi atau pratikum anatomi. (#kedokteranonly)



8. Mahasiswa SKS = tipe paling banyak di tiap kampus. belajar sampai larut hanya ketika besoknya ujian.



10. Mahasiswa paket hemat = datengnya pas praktikum,skill lab ma tutor doang



11. Mahasiswa galau = tiap malam ngetweet galau sambil dengerin lagu2 adele


12. Mahasiswa setengah dewa = Tiap hari kerjaan nya maen game dan OL, tapi selalu berhasil kalo ujian.



13. Mahasiswa gaul stadium 4 = ke kampus pakai kaos oblong dan celana jeans




14. Mahasiswa inhibitor = sukanya nanya2 ke dosen sehingga menghambat mahasiswa yg lain utk pulang



15. Mahasiswa kritis : selalu nanya jadwal kuliah padahal modul dia punya, dan bertanya terus kapan dosen masuk



16. Mahasiswa OVJ = tiada hari tanpa membuat tertawa teman2nya



17. Mahasiswa petani = datang paling pagi buat bookingin tempat duduk temen



18. Mahasiswa insert investigasi = niat dateng ke kampus buat nyari gosip2 ter-hot seangkatan



19. Mahasiswa asianlover = tiap hari ngebahas korea. suka teriak2 ga jelas tiap ngeliat foto/ video artis korea



20. Mahasiswa FreeAll = datang ke kmpus bawa laptop untuk dapat ngenet gratis dan download film gratis pake sinyal wifi kampus



21. Mahasiswa the ripper = pembunuh teman saat tutorial


22. Mahasiswa dreamer = kerjaannya tidur di kelas dari awal sampai habis



23. Mahasiswa KW 9 = beli buku yg bajakan semua.



24. Mahasiswa ekstrovert : suka gosipin kelakuan teman²nya & dosen



25. Mahasiswa pa bondan = dateng ke kampus cuma nongkrong di kantin sambil ngeborong kuliner



26. Mahasiswa introvert = punya bahan untuk belajar buat ujian dari dosen hanya disimpan buat sendiri, ogah bagiin ke teman²



27. Mahasiswa perpustakaan berjalan = kemana2 bawa buku yg tebel2



28. Mahasiswa JournalLover = bawa jurnal kemana2 tapi ga paham isinya apa



29. Mahasiswa model : kekampus pakai height heel lebih 10 cm„,



30. Mahasiswa pencabut dompet = sukanya nagih uang ke teman



31. Mahasiswa Konter = datang ke kampus menawarkan jasa pulsa elektrik



32. Mahasiswa recorder = hafal semua yang dikatakan dosen waktu kuliah



33. Mahasiswa program KB = IP 2 cukup



34. Mahasiswa hemat listrik : suka ngecas bb. Laptop,hape dikampus



35. Mahasiswa SOGO = ke kampus dandannya kaya mau liburan keluar negri



36. Mahasiswa hemat air = suka numpang mandi dan BAB di wc kampus



37. Mahasiswa buku berjalan = mahasiswa yang saking pinternya, ditanyain materi selalu bisa jawab



38. Mahasiswa game center = mahasiswa yang datang ke kampus cuma buat maen game online bareng temen seangkatan



39. Mahasiswa cool = paling suka duduk dibawah AC ketika kuliah



40. Mahasiswa las vegas = ke kampus cuma buat maen poker sama UNO di kantin.



41. Mahasiswa olahragawan = ke kampus selalu pake sepatu futsal



42. Mahasiswa superman = kemana-mana sobotta dan dorland d gendong d tas



43. Mahasiswa RU = ada apa apa dikit langsung updet pm, menuhin recent updates



44. Mahasiswa bermodal cinta = datang ke kampus ga bawa apa2



45. Mahasiswa joki 3 in 1 = suka nebeng temen ke kampus



46. Mahasiswa seks bebas = suka nyucuk flashdisk berisi virus ke berbagai laptop



47. Mahasiswa tutorial oriented = hanya belajar keras saat tutorial aja



48. Mahasiswa kupu2 = kuliah-pulang kuliah-pulang



49. Mahasiswa salesman = gaya berpakaiannya susah dibedakan antara mahasiswa dan salesman



50. Mahasiswa gaib = kehadirannya tidak jelas.



SITUS BERSEJARAH DI ACEH SELATAN

Aceh Selatan adalah salah satu kabupaten di Nanggroe Aceh Darussalam, Indonesia. Sebelum berdiri sendiri sebagai kabupaten otonom, Aceh Selatan adalah bagian dari Kabupaten Aceh Barat. Pemisahan Aceh Selatan dari Aceh Barat ditandai dengan disahkannya Undang-Undang Darurat No. 7 Tahun 1956 pada 4 November 1956.
Kabupaten Aceh Selatan pada tanggal 10 April 2002 resmi dimekarkan sesuai dengan UU RI Nomor 4 tahun 2002 menjadi tiga Kabupaten, yaitu Kabupaten Aceh Barat Daya, Kabupaten Aceh Singkil dan Kabupaten Aceh Selatan.
Wilayah Kecamatan terpadat penduduknya adalah Kecamatan Labuhan Haji diikuti oleh Kecamatan Kluet Utara, Sementara jumlah Penduduk terkecil adalah Kecamatan Sawang. Sebahagian penduduk terkonsenrasi disepanjang jalan raya pesisir dan pinggiran sungai. Kondisi topografi Kabupaten Aceh Selatan sangat bervariasi, terdiri dari dataran rendah, bergelombang, berbukit, hingga pegunungan dengan tingkat kemiringan sangat curam/terjal.
Dari data yang diperoleh, kondisi topografi dengan tingkat kemiringan sangat curam/terjal mencapai 63,45%, sedangkan berupa dataran hanya sekitar 34,66% dengan kemiringan lahan dominan adalah pada kemiringan kemiringan 3,40% dengan luas 254.138.39 ha dan terkecil kemiringan 8-15% seluas 175.04 hektar selebihnya tersebar pada berbagai tingkat kemiringan. Dilihat dari ketinggian tempat (diatas permukaan laut) ketinggian 0-25 meter memiliki luas terbesar yakni 152.648 hektar (38,11%) dan terkecil adalah ketinggian 25,00 meter seluas 39.720 hektar (9,92%).
Sementara itu, sebahagian besar jenis tanah di Kabupaten Aceh Selatan adalah podzolik merah kuning seluas 161,022 hektar dan yang paling sedikit adalah jenis tanah regosol (hanya 5,213 ha).
Situs Sejarah Kabupaten Aceh Selatan
1. Meriam Kerajaan Meukek
Meriam peninggalan sejarah pada masa Kerajaan Meukek yang ditulis oleh Paul Van’t Veer dalam bukunya De Atjeh Oorlog menyebutkan, meriam itu dikirim oleh Raja Turki pada tahun 1864 M bersamaan dengan 10 meriam Raja Kerajaan Tapaktuan. Lima meriam untuk Raja Meukek dan 10 meriam untuk Raja Tapaktuan, sewaktu perang di depan Krueng Sirullah pecah antara Belanda dengan rakyat Aceh Selatan, meriam ini sempat dibawa oleh rakyat Meukek dengan perahu layar pembawa kopra menuju pelabuhan Cerocok – Gosong Pakak Tapaktuan pada tahun 1874. Kota Tapaktuan dihujani peluru dari laut. Rakyat Meukek, Labuhanhaji dan Tapaktuan memberikan perlawanan dengan meriam buatan Kerajaan Turki. Pertempuran hebat dan sengit itu tepatnya terjadi pada tanggal 5 Mei 1874 ketika bendera Belanda dikibarkan di Tapaktuan.
2. Rumah Adat Kluet (Rungko)
Rumah Adat Kluet (Rungko) yang terletak di Desa Koto Kluet Tengah didirikan pada tanggal 1 Januari 1861 oleh Raja Menggamat Imam Hasbiyallah Muhummad Teuku Nyak Kuto – keturunan pejuang Kluet Tgk. Imam Sabil yang pernah berperang melawan Belanda dalam Perang Lawe Melang Menggamat. Rumah Adat Kluet – Rungko ini selain tempat tinggal Raja juga berfungsi sebagai tempat perkara jika terjadi perselisihan dan sengketa dalam kehidupan rakyat Menggamat.
3. Makam Teuku Raja Angkasah
Makam Teuku Raja Angkasah terletak di pinggir Sungai Dayah, Desa Buket Gadeng, sekitar 8 km dari Kota Bakongan, Ibu kota Kecamatan Bakongan, Aceh Selatan. Pahlawan Aceh Selatan ini gugur di medan perang melawan Belanda. Tempat gugurnya Teuku Raja Angkasah sekitar 5 kilometer dari kawasan hutan Buket Gadeng yang ditembak pasukan Belanda dari empat arah. Ia gugur pada tanggal 18 Desember 1925. Saat itu dua panglima utamanya, Panglima Gadeng dan Panglima Idris yang merupakan panglima yang paling setia gugur tertembak di depan mata Teuku Raja Angkasah. Ia sendiri berada dalam posisi terdesak karena dikepung dari empat sisi dalam keadaan habis peluru. Teuku Raja Angkasah mencabut pedangnya, kemudian melompat dengan pekik Allahu Akbar langsung menyerang sejumlah serdadu Belanda. Akhirnya Teuku Raja Angkasah gugur setelah sebutir peluru menembus mulutnya.
4. Makam Tengku Peulumat
Makam Tengku Peulumat terletak di Desa Betong Peulumat Kecamatan Labuhanhaji Timur. Tengku Peulumat nama aslinya Tengku Syekh Abdul Karim, beliau lahir pada tanggal 8 Agustus 1873 di Kota Baru Sungai Tarap Batu Sangkar Minangkabau Sumatera Barat, sejak kecil sampai dewasa Tengku Peulumat berada di kampungnya, setelah dewasa merantau ke Aceh dan menetap di Peulumat, beliau kawin dan berumah tangga di Peulumat. Di Peulumat beliau belajar dan memperdalam ilmu agama di Pondok Pesantren Darussalam Labuhanhaji yang kemudian pesantren ini dipimpin oleh keponakan beliau yang bernama Syech Tengku Muda Wali Al Chalidy. Ia belajar syariat, hakikat dan makrifat. Karena Tengku Peulumat sangat menggandrungi ilmu Tasauf, ia hidup dengan ajaran sufi yaitu kaum yang hidup warak dan khana’ah yang tidak cinta dunia. Karena kesucian dan kebeningan jiwa Tgk. Peulumat menjadi seorang wali atau Aulia Allah. Banyak hal-hal yang diluar logika terjadi pada diri Tengku Peulumat seperti: ia bisa menghilang dan berjalan di atas air dan shalat Jumat ke Masjidil Haram dalam waktu singkat dan bisa kembali ke Peulumat. Sebagaimana cerita yang sudah populer di masyarakat Aceh Selatan bahwa pada suatu hari Tengku Peulumat pergi ke pajak ikan membeli ikan. Dalam perjalan pulang tiba-tiba ia ditegur seorang anak yatim, karena mendapat teguran itu, lantas ikan itu diberikannya kepada anak tersebut. Hal itu sempat dilihat oleh isterinya sambil marah kepada Tengku Peulumat. Tapi dengan tenang Tgk. Peulumat mengatakan bahwa ganti ikan itu sudah ada tergantung di dekat tungku dapur yaitu seekor ikan laut sebesar betis yang masih segar dan masih hidup. Tengku Peulumat meninggal pada tanggal 8 Agustus 1943. Saat jenazahnya dimasukkan ke dalam kubur dan ketika ikat kain kapan bagian lehernya dibuka, kerenda Tgk. Syech Abdul Karim ternyata kosong – jasad Tengku Peulumat raib. Dikabarkan jenajah orang suci – Aulia Allah yang juga oleh masyarakat dijuluki dengan Aulia Allah diangkat dan diusung para Malaikat ke alam Malakut.
5. Al-Qur’an Gadang
Al-Qur’an Gadang terdapat di Desa Kampung Dalam Kec Labuhanhaji, Aceh Selatan. Al-Qur’an Gadang ditulis oleh seorang yang berasal dari Pariaman Minangkabau yang bernama Datuk Sultan Palaci. Al-Qur’an itu ditulis sepulang dari Mekah selama 2 tahun 2 bulan dan 2 hari dengan tangannya sendiri. Setiap Al Quran itu ditulis ia selalu dalam keadaan berwuduk. Ia menulis setiap selesai shalat tahajjud hingga fajar. Ia mulai menulis musaf Al-Qur’an itu pada subuh Juma’t pada tanggal 8 Agustus 1937 dan selesai ditulis pada tanggal 8 Agustus 1939 juga di Subuh Jumat.
Dahulu dan hingga kini Al-Qur’an ini sering dijadikan tempat bersumpah saat orang berperkara (bersengketa). Biasanya terbukti jika orang yang bersengketa itu berbohong.
6. Makam Syekh Muda Waly Al Khalidy
Makam Syekh Muda Waly Al Khalidy terletak di Desa Blang Dalam Kecamatan Labuhanhaji Barat. Syeikh Muda Waly Al khalidy dilahirkan di Desa Blang Poroh, Kecamatan Labuhan Haji, Kabupaten Aceh Selatan pada tanggal 8 Agustus 1917. Beliau adalah putra bungsu dari Sheikh H. Muhammad Salim bin Malin Palito. Ayah beliau berasal dari Batu Sangkar, Sumatra Barat. Beliau datang ke Aceh Selatan selaku da’i. Sebelumnya paman beliau yang masyhur dipanggil masyarakat Labuhan Haji dengan Tuanku Peulumat yang nama aslinya Sheikh Abdul Karim telah lebih dahulu menetap di Labuhan Haji.
Tgk. Syekh Muda Waly Al Khalidy wafat pada tahun 1961. Ia seorang Ulama besar yang memimpin Pesantren Darussalam di Blang Poroh Kec. Labuhanhaji Barat.
7. Benteng Trumon
Benteng Trumon terletak di Desa Keude Trumon Kecamatan Trumon. Benteng tersebut dibangun pada tanggal 11 Agustus 1770 sampai dengan tanggal 8 Agustus 1802 pada masa pemerintahan Teuku Raja Jakfar dan diteruskan oleh anaknya Teuku Raja Bujang pada masa itu di dalam benteng itu ada tempat percetakan uang kerajaan Trumon sendiri. Pertama uang dicetak di Portugal, Lisabon, kemudian ditiru dicetak di Trumon menjadi uang Trumon atas seizin Kerajaan Portugal dan uang tersebut menjadi uang Trumon. Asal usul Kota Trumon berasal dari Trung Binah Mon. Selanjutnya benteng tersebut dijaga oleh saudara Teuku Raja Ubit sampai turun temurun.
8. Bupaleh
Bupaleh terletak di Desa Kuala Ba’u. Bupaleh berasal dari bahasa Arab Bupalatul, tempat berhujah ulama dalam mencari suatu kebenaran berdasarkan Al-Qur’an dan Hadist Nabi. Kegiatan itu dilaksanakan mulai tahun 1940. Sebelumnya pada tahun 1888 di kawasan itu juga digunakan sebagai tempat bermusyawarah para ulama keturunan Said yang mengembangkan Agama Islam di Aceh, salah seorang keturunan Said yang berjasa mengembangkan agama Islam di Aceh Selatan ialah Alm. Drs. H. Sayed Mudhahar Ahmad, Msi. mantan Bupati Aceh Selatan. Disebutkan juga di lokasi Bupaleh ini adalah tempat pertama sekali Tengku Syekh Muda Wali mengajarkan Al-Qur’an (belajar mengaji) kepada anak sulungnya Djamaludin Wali.
9. Mesjid Tuo Pulo Kambing
Mesjid Tuo Pulo Kambing terletak di Desa Pulo Kambing Kec. Kluet Utara. Mesjid Tuo Pulo Kambing umurnya sekarang berkisar sekitar 9 abad lebih (tepatnya mesjid ini dibangun pada tgl 8 Agustus 1351 Masehi oleh seorang Ulama yang bernama Syech Muhammad Husin Al-Fanjari Bin Muhammad Al-fajri Kautsar, murid dari seorang ulama Sufi yang datang dari Persia). Mesjid ini mempunyai tiang-tiang yang berukir kalighrafi arab dan tulisan tersebut menceritakan riwayat berdirinya kerajaan-kerajan Islam dahulu di Aceh. Uniknya mesjid ini mempunyai kemiripan dengan mesjid yang pertama dibangun oleh Wali Songo di Jawa. Tiang pertama mesjid ini kayunya diangkut sendirian dari hutan Ruak oleh salah seorang murid Syech Muhammad Husin Al-Fanjari yang bernama Syech Mutawali Al-fanshuri dengan tangan kosong pada tanggal 5 Agustus 1351 Masehi. Setelah tiang pertama dipancangkan selesai shalat subuh, 8 Agustus 1351 baru bersama masyarakat secara bergotong royong mesjid itu dibangun dibawah komando Syech Muhammad Husin Al-Fanjari dengan menyembelih satu ekor kerbau, satu ekor kambing dan satu ekor ayam jantan putih.
10. Makam Raja Lelo (Banta Saidi)
Makam Raja Lelo terletak di Desa Sapik Kec. Kluet Timur. Raja Lelo nama aslinya Banta Saidi lahir 1 Agustus 1780 di Kluet Timur adalah pengikut atau pasukan berani mati Teuku Cut Ali. Ia dikejar marsose Belanda dibawah pimpinan Kapten J. Paris. Di kawasan Kampung Sapik Kecamatan Kluet Timur inilah terjadi pertempuran sengit. Dalam peperangan ini, 19 orang pasukan Panglima Raja Lelo gugur. Serangan ini juga melukai 12 orang tentara marsose dan berhasil menawan Belanda. Pertempuran seru terjadi ketika Banta Saidi atau Panglima Raja Lelo berhadapan dengan Kapten J. Paris dengan pertarungan tangan kosong. Keduanya sama-sama memiliki ilmu kekebalan. Saat itu puluhan butir peluru yang menerjang tubuh Raja Lelo tidak mampu melukai tubuhnya. Demikian juga sebaliknya. Puluhan kali Banta Saidi menebaskan pedangnya ke tubuh Kapten Paris, namun tidak mampu melukai tubuh Kapten Paris karena orang Belanda ini juga memiliki ilmu kebatinan. Panglima Rajo Lelo dan Kapten Paris beradu gulat. Pertarungan sangat sengit dan seru, dan saling banting, saling pukul dan saling terjang. Karena tingkat kesaktian Banta Saidi atau Panglima Raja Lelo lebih tinggi daripada Kapten J. Paris, akhirnya Raja Lelo berhasil menemukan kelemahan kesaktian Kapten Paris. Panglima Raja Lelo segera memagut tubuh Kapten Paris, sambil memegang dan memutar alat vital Kapten Paris. Saat itu juga kapten yang kebal dan sakti ini tewas.
Gambaran kejadian yang menciutkan nyali pasukan marsose dalam perang Kelulum itu dapat diungkapkan dalam bait syair Aceh sebagai berikut:
Prang Bakongan seuhu hana kri
Kaphe neu tadi keunong bak jungka
Matee Angkasah tinggay Cut Ali
Prang teu-jali leubeh nubura
Peudeung neu-gunci su meudeungong
Han jitem tamong meuhana bila
Kapten Paris putoo taloy nyawong
Sakti Limong Raja Lela.
Lima bulan kemudian setelah terbunuhnya Kapten J. Paris, Panglima Raja Lelo jatuh sakit, ia dilarikan ke Suak Bakong untuk dirawat, karena kondisi Suak Bakong masih dijaga ketat pasukan Belanda, malam itu Banta Saidi kembali dibawa ke Kampung Sapik. Malam Jumat tanggal 8 Agustus 1926 Banta Saidi atau Panglima Raja Lelo menghembuskan nafasnya yang terakhir. Jenazahnya dikebumikan di samping kuburan para pasukannya yang gugur terdahulu yaitu di lokasi terjadinya Perang Kelulum Desa Sapik – Kluet Timur, Aceh Selatan.
11. Makam Teuku Cut Ali
Makam Teuku Cut Ali terletak di Desa Suak Bakong, Kluet Selatan. Setelah Teuku Raja Angkasah gugur perlawanan diteruskan oleh Teuku Cut Ali. Teuku Cut Ali lahir pada tanggal 1 Agustus 1867 di Trumon. Ia berjuang menentang Belanda secara gerilya atau berpindah tempat dengan membawa para pengikutnya. Pada tanggal 1 Agustus 1927 terjadilah perang Teuku Cut Ali melawan pasukan Belanda. Menurut penuturan Panglima Untung (Panglima Uleebalang Keujrun Kluet) saksi hidup Teuku Cut Ali gugur di Alue Bebrang Lawe saah Kecamatan Kluet Timur, Aceh Selatan. Pasukan Belanda waktu itu dipimpin oleh Kapten G.F.V. Gosenson perang sengit terjadi di bawah lereng jurang di Alue Beebrang Lawe sawah. Dalam adu tembak itu, isteri Teuku Cut Ali yang bernama Fatimah yang sedang hamil itu tertembak peluru Belanda. Melihat kejadian itu, Teuku Cut Ali Marah dan langsung maju menghadang melawan pasukan Belanda, dalam saling adu tembak Teuku Cut Ali Akhirnya tewas bersama pengikutnya: Fatimah tewas dalam keadan hamil tua, Nyak Meutia Binti Teuku Nago, Imam Sabil alias Ben Kechik, Nyak Jawa alias Abdullah bin Man Peh, Teuku Nago dan Nyak Asan. Setelah memotong Kepala Teuku Cut Ali, Belanda membawa potongan kepala itu ke Suak Bakong untuk di arak dan dipertontonkan kepada warga Suak Bakong, sorenya (1 Agustus 1927) potongan kepala itu dikebumikan di pinggir sungai Kandang Suak Bakong. Sedangkan badannya dikebumikan bersamaan dengan jasad Imam Sabil dalam satu liang. Jenazah Teuku Cut Ali dimandikan oleh Tambi (ayahanda H. Abdul Salam BA – mantan Ketua DPRK Aceh Selatan).
12. Mesjid Tuo Kampung Padang
Mesjid Tuo Kampung Padang terletak di Gampong Padang Tapaktuan, Aceh Selatan. Mesjid Tuo Kampung Padang ini dibangun pada tanggal 10 Agustus 1108 Masehi oleh Syech Al-Jazirazi Farsyiah Bin Ibnu Mansyur dalam bentuk pondok kecil berlantai papan. Kemudian pada tahun 1115 mesjid ini direhabilitasi oleh muridnya Tengku Muhammad Chalidy bin Fasaman. Kemudian pada tahun 1351 Masehi kembali direhabilitasi oleh seorang ulama yang bernama Tengku H. Abdul Manan bin Muhammad Sutan Pariaman. Dari dulu sebelum masuknya penjajahan Belanda, mesjid ini tempat belajar membaca Al-Qur’an dan tempat menyelenggarakan shalat Jumat dan memperingati hari-hari besar Islam seperti Israk Mikraj, 1 Muharram dan Maulid Nabi Muhammad SAW. Keanehan dan kelebihan Mesjid Tuo ini, di depannya terdapat Makam Tuan Tapa, orang keramat yang membunuh Naga. Setiap memperingati Maulid Nabi, dari permukaan makam Tuan Tapa ini keluar dengan sendirinya talam, piring, mangkok, gelas dan sendok serta perkakas dapur lainnya secara gaib. Kemudian semua benda itu ditaruh kembali setelah digunakan, dan pada tengah malam menurut saksi mata semua benda itu masuk dan hilang kembali ke dalam Makam Tuan Tapa. Menurut penuturan sejarah pada tahun 1938 sampai 1943 Masehi sangat sering Tengku Peulumat datang shalat Dzuhur dan Ashar ke mesjid ini bahkan dikatakan juga Tengku Peulumat yang keramat ini sering tidur siang di mesjid menunggu waktu shalat Ashar. Pada suatu saat Tengku Peulumat sedang tidur, beberapa murid yang sedang belajar mengaji bertanya kepada Tengku Peulumat: “Kenapa Anduang tidur bergelung dan menekukkan lutut seperti orang kedinginan?” Lantas orang suci dan keramat ini menjawab: “Jika kedua kaki ini aku ulurkan kena tepi langit.”
Kemudian pada hari yang lain, saat shalat Ashar tiba-tiba Tengku Peulumat, Paman dari Tgk. Syekh Muda Waly Al Khalidy ini tiba di depan pekarangan Mesjid Tuo dalam keadaan basah kehujanan. Salah seorang jamaah bertanya kepadanya: “Bagaimana Tuanku shalat basah seperti itu?” Lantas Aulia Allah ini membuka bajunya lalu dikibaskannya beberapa kali sehingga semua pakaian yang lagi basah ditubuhnya itu kering seperti baru diangkat dari jemuran.
13. Makam Tuan Tapa
Makam Tuan Tapa terdapat di Gampong Padang Kecamatan Tapaktuan, di depan Mesjid Tuo. Dalam pertarungan antara Tuan Tapa dengan dua ekor Naga karena memperebutkan Putroe Bungsu, akhirnya Tuan Tapa berhasil mengalahkan kedua naga tersebut. Sang Putri pun dapat kembali bersama orang tuanya, tetapi keluarga itu tidak kembali ke Kerajaan Asralanoka,  tetapi mereka memilih menetap di Aceh. Keberadaan mereka di Tanah Aceh diyakini sebagai cikal bakal masyarakat Tapaktuan.
Setelah kejadian itu, Tuan Tapa sakit. Seminggu kemudian Tuan Tapa meninggal dunia pada Bulan Ramadhan Tahun 4 Hijriyah. Jasadnya dikuburkan di dekat Gunung Lampu, tepatnya di depan Mesjid Tuo Kelurahan Padang, Kecamatan Tapaktuan, dan hingga sekarang makam manusia keramat itu masih bisa kita saksikan. Makam Tuan Tapa itu sudah pernah mengalami beberapa kali pemugaran semasa Pemerintahan Belanda.
Makam Tuan Tapa yang terdapat di Kelurahan Padang, Tapaktuan ini kerap dikunjungi turis lokal maupun turis mancanegara. Pada tahun 2003 dalam acara silaturrahmi Susilo Bambang Yudhotono (SBY) dengan masyarakat Tapaktuan, SBY yang sekarang Presiden Republik Indonesia itu pernah ziarah ke Makam Tuan Tapa yang waktu itu didampingi Gubernur NAD Ir. H. Abdullah Puteh, Bupati Aceh Selatan Ir. H. T. Machsalmina Ali, MM, Darul Qutni Ch Kepala Biro Surat Kabar Ekspos dan pemuka masyarakat setempat Nasiruddin Gani.

Negeri Tiga Bahasa

-28 September 2013-



Aceh selatan sebagai salah satu Kabupaten di Propinsi Aceh memiliki keunikan sendiri dalam bidang budaya, bagaimana tidak kabupaten yang luasnya 4.005 kmdan hanya berpenduduk 206.252 jiwa ini terbagi pula kedalam tiga suku yang mendiaminya, yang masing-masing memiliki bahasa tersendiri yang sangat berbeda antara satu dengan lainnya. Adapun ke empat suku dan etnis yang mendiami Aceh Selatan adalah Suku Aceh, Suku Kluet dan Suku Aneuk Jamee. Walaupun dihuni tiga etnis berbeda ini, penduduk Aceh Selatan adalah 100% muslim.

Suku Aceh merupakan suku mayoritas di Aceh Selatan, yang populasinya tersebar dalam Kecamatan Trumon Timur, Trumon Tengah, Trumon, Bakongan Timur, Bakongan, sebagian Kluet Selatan, sebagian Kluet Utara, Pasie Raja, Sawang, dan Meukek. Dengan demikian otomatis penutur Bahasa Aceh adalah paling banyak di Aceh Selatan yaitu sekira 60% dari jumlah penduduk Aceh Selatan.
Sementara Suku Aneuk Jamee tersebar di Kecamatan Kluet Selatan, Tapaktuan, Samadua, Labuhan Haji Timur, Labuhan Haji Tengah dan Labuhan Haji Barat. Umumnya Suku Aneuk Jamee mendiami pesisir Aceh Selatan dan mereka menggunakan Bahasa Aneuk Jamee yang mempunyai akar dari Sumatera Barat. Secara bahasa yang dituturkan mereka tidak jauh berbeda dengan Bahasa Minang. Namun demikian Bahasa Aneuk Jamee juga memiliki perbedaan antara satu daerah dengan daerah lain secara dialeknya. Umumnya dialek Bahasa Aneuk Jamee terbagi tiga yaitu dialek Kluet Selatan, Dialek Tapaktuan dan Dialek Labuhan Haji. Penutur Bahasa Aneuk Jamee sekitar 30% dari penduduk Aceh Selatan.
Sedangkan Suku Kluet mendiami pedalaman di Kecamatan Kluet Utara, Kluet Timur dan Kluet Tengah. Bahasa Kluet mempunyai akar yang kuat dengan Bahasa Alas, Singkil, serta Pakpak dan Karo di Sumatera Utara. Adapun persentase penuturnya sekira 10% dari penduduk Aceh Selatan.
Dalam pergaulan sehari-hari masyarakat Aceh Selatan berjalan dengan harmonis dan tidak pernah terjadi konflik yang berdasarkan perbedaan etnis ini, sehingga keberagaman budaya dan adat istiadat ini menjadi kekayaan yang berharga bagi masyarakat Aceh Selatan dalam membangun daerahnya.

Nikmatnya Sambal Udang Tokok khas Labuhan Haji

-28 September 2013-

Mungkin tak banyak orang Aceh yang mengenal daerah Labuhan Haji di Aceh Selatan ini. Kecamatan yang diapit oleh Bukit Barisan dan laut ini dulunya adalah salah satu tempat keberangkatan jemaah yang akan berangkat haji lewat laut. Hal ini pula yang menjadi cikal bakal nama Labuhan Haji.
Aku menghabiskan masa kecilku di daerah ini. Salah satu kenangan yang masih aku ingat jelas adalah menangguk udang di parit pinggir sawah. Air parit yang hanya sebetis menjadi hangat terjemur matahari dan udang-udang di dalamnya menjadi mabuk. Tak perlu waktu lama dan tenaga lebih untuk menangkap udang-udang di sana. :D
Udang hasil tangkapan ini tidak dijual, tapi Mamak mengolahnya menjadi berbagai masakan super enak khas kampung. Bisa di gulai asam padeh, digoreng, digulai santan, dan disambal. Tapi masakan mamak yang paling membuat lidah berdecak dan liur meleleh setiap kali membayangkannya adalah Sambal Udang Tokoknya. Malah menurutku sambal udang ini jauh lebih enak dari gulai rendang. Sambal Udang Tokok dulunya dijadikan sebagai pengganti ikan karena sulitnya mendapatkan ikan. Karena letak Labuhan Haji sangat dekat dengan gunung dan laut, ketika musim barat melanda, nelayan banting setir mencari nafkah dengan berkebun ke gunung atau bersawah.
 Sambal yang pedasnya luar biasa ini biasanya disajikan dengan sayur bening (sayur yang hanya direbus dengan air saja) dan nasi atau hanya dengat nasi hangat saja pun sudah cukup nendang! Peluh dari kepala bisa mengucur deras ketika menikmati sambal ini ketika santap siang. Flu dan sakit kepala pun akan langsung hilang. 
Sambal udang tokok ini hanya dimasak di rumah. Jadi jangan harap menemukannya di warung-warung di Aceh. Apalagi di warung Pidie dan Padang. Sejauh ini memang belum ada yang menjualnya. Tapi jangan khawatir, kamu tetap bisa merasakan nikmatnya sambal udah tokok ini dengan memasaknya sendiri karena aku akan membagikan resepnya yang masih banyak orang belum tahu. Bahan-bahannya pun mudah dicari dan memasaknya pun tidak sulit. 

Bahan-bahan: 
  • Udang 250 gram, buang kepala dan ekor (diketok sampai agak hancur); 
  • Bawah merah 2 siung (1 siung untuk tumis, 1 siung untuk dihaluskan); 
  • Cabe rawit 1 genggam (haluskan); 
  • Cabe merah 10 buah (haluskan); 
  • Sunti 10 buah (haluskan)/jika tidak ada, boleh ganti dengan belimbing wuluh 10 buah (hancurkan);
  • Belimbing wuluh 10 buah (diketok sampai hancur); 
  • Garam setengah sendok teh;
  • Minyak goreng 5 sendok makan. 
Cara memasaknya: 
  • Tumis bawang hingga wanginya sampai ke rumah tetangga
  • Masukkan bumbu yang sudah dihaluskan, masak sampai mendidih sambil diaduk-aduk
  • Masukkan udang dan belimbing, dan tambahkan garam lalu aduk lagi. 
  • Masak dengan api kecil hingga kering dan berwarna coklat. 

Jadi deh, Samba Udang Tokok khas Labuhan Haji. 
Sajikan selagi hangat dengan nasi putih dan sayur bening. Jika berlebih, masih bisa dipanaskan dan tahan berhari-hari kok. :D

Bagi yang di luar Aceh, mungkin akan susah mendapatkan asam sunti, yaitu buah belimbing wuluh yang sudah dikeringkan. Tapi membuat asam sunti ini pun gampang, buah belimbing wuluh yang cukup tua dicampur garam lalu dijemur di bawah terik matahari selama beberapa hari sampai kisut dan berwarna coklat. Lalu simpan dalam wadah tertutup. Nah, gampang sekali, kan? 
Bagi yang suka masakan pedas, kamu harus mencoba memasak ini di rumah. 
 Selamat mencoba, semoga makan anda batambuah.. hehehe..